![]() |
Ilustrasi, ( Sumber : Google/AWIPA-MKW) |
Novel,AWIPA-MKW - Nama saya
Lantip. Ah, tidak. Nama saya yang asli sangatlah dusun–ndeso–Wage. Menurut embok (ibu) saya, nama itu
diberikan karena saya dilahirkan pada hari Sabtu Wage. Nama Lantip itu saya dapatkan
kemudian waktu saya mulai tinggal di rumah keluarga Sastrodarsono, di Jalan
Setenan, kota Wanagalih. Sebelumnya, saya tinggal bersama embok saya di Desa Wanalawas yang
hanya beberapa kilometer saja dari kota Wanagalih. Menurut cerita, Desa Wanalawas
itu adalah desa cikal bakal kota Wanagalih, terutama saat Mataram melihat
daerah ini sebagai wilayah yang strategis. Madiun diperintahkan oleh Mataram
untuk mengembangkan kawasan itu menjadi kawasan yang ramai. Maka bedol desa atau pemindahan
desa pun diperintahkan oleh Mataram untuk mengisi kawasan tersebut, di mana
desa Wanalawas adalah salah satu desa yang dijebol untuk menjadi bagian
Wanagalih.
Dari salah
satu desa yang lumayan besar, Desa Wanalawas pun menciut menjadi desa yang
kecil. Salah satu dari keluarga-keluarga yang tinggal di Wanalawas adalah nenek
moyang embok saya. Menurut embok saya, mereka adalah
orang-orang desa yang bertani padi, palawija, dan sedikit tembakau. Sawahnya
tidak seberapa besar; hanya satu atau dua bau saja. Itu pun sawah tadah hujan,
karena letak sawah itu jauh dari sungai yang dapat mengairi sawah itu.
Selain
bersawah, keluarga moyang saya adalah juga keluarga pembuat tempe. Ayah saya…
wah, saya tidak ingat pernah mengenalnya. Embok
selalu mengatakan ayah saya pergi jauh untuk mencari duit. Hanya bertahun-tahun
kemudian pada waktu saya sudah menjadi bagian dari rumah tangga Sastrodarsono,
saya sedikit mendapat bayangan siapa ayah saya sewaktu saya sering kena bentak
embah guru kakung (kakek).
Meskipun orangnya baik dan adil, embah guru
kakung juga keras dan bila marah suka membentak sembari misuh (mengumpat)….
Demikianlah
sebuah contoh novel singkat dalam bahasa Indonesia.
Karya: Umar Kayam
Sumber : www. dosenbahasa.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar